Hingga 60% anak dengan ADHD juga mengalami gangguan pemrosesan sensori (Sensory Processing Disorder/SPD). Mereka bisa hipersensitif (terganggu oleh label baju, suara jam berdetak, tekstur makanan) atau hiposensitif (suka memutar-mutar badan, tidak menyadari luka). SPD sering disalahartikan sebagai 'manja' atau 'cari perhatian'. Padahal sensasi yang normal bagi orang lain (seperti vacuum cleaner) bisa terasa menyakitkan bagi anak hipersensitif. Reaksi mereka bisa berupa tantrum atau melarikan diri (fight or flight). Penanganan oleh okupasi terapis menggunakan 'sensory diet': jadwal aktivitas yang menyediakan input sensorik yang dibutuhkan anak. Contoh untuk anak hipersensitif: beri 'weighted blanket' (selimut berbobot) untuk menenangkan; untuk hiposensitif: trampolin, ayunan, atau 'brushing protocol'. Orang tua dapat membuat 'sensory corner' di rumah: tenda kecil dengan bean bag, alat musik lembut, dan fidget toys. Hindari memaksa anak memakai pakaian yang tidak nyaman; potong label pakaian dan pilih bahan katun organik. MHKES UNINUS memiliki klinik okupasi terapi dengan ruang sensory integration (ayunan platform, tangga tali, kolam bola). Setelah 12 sesi, anak-anak dengan ADHD+SPD menunjukkan penurunan perilaku disruptif (tantrum) hingga 60% dan peningkatan partisipasi di sekolah.
Menurut data terbaru dari Kementerian Kesehatan RI, isu ini menjadi prioritas nasional yang membutuhkan kolaborasi semua pihak. Evaluasi program yang berjalan menunjukkan hasil positif namun masih perlu peningkatan cakupan dan kualitas layanan.
Peran keluarga dan masyarakat sangat menentukan keberhasilan intervensi kesehatan. Edukasi berkelanjutan melalui berbagai platform media sosial dan komunitas dapat mempercepat perubahan perilaku kesehatan.
Para ahli kesehatan merekomendasikan pendekatan evidence-based practice dalam menangani permasalahan ini. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa intervensi yang tepat sasaran dapat menekan angka kejadian hingga 30% lebih rendah.
MHKES UNINUS terus berkontribusi melalui riset dan pengabdian masyarakat untuk menemukan solusi inovatif. Kerjasama dengan berbagai mitra strategis seperti rumah sakit, puskesmas, dan dinas kesehatan terus diperluas.
Menurut data terbaru dari Kementerian Kesehatan RI, isu ini menjadi prioritas nasional yang membutuhkan kolaborasi semua pihak. Evaluasi program yang berjalan menunjukkan hasil positif namun masih perlu peningkatan cakupan dan kualitas layanan.
Peran keluarga dan masyarakat sangat menentukan keberhasilan intervensi kesehatan. Edukasi berkelanjutan melalui berbagai platform media sosial dan komunitas dapat mempercepat perubahan perilaku kesehatan.
Para ahli kesehatan merekomendasikan pendekatan evidence-based practice dalam menangani permasalahan ini. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa intervensi yang tepat sasaran dapat menekan angka kejadian hingga 30% lebih rendah.
MHKES UNINUS terus berkontribusi melalui riset dan pengabdian masyarakat untuk menemukan solusi inovatif. Kerjasama dengan berbagai mitra strategis seperti rumah sakit, puskesmas, dan dinas kesehatan terus diperluas.
Menurut data terbaru dari Kementerian Kesehatan RI, isu ini menjadi prioritas nasional yang membutuhkan kolaborasi semua pihak. Evaluasi program yang berjalan menunjukkan hasil positif namun masih perlu peningkatan cakupan dan kualitas layanan.
Peran keluarga dan masyarakat sangat menentukan keberhasilan intervensi kesehatan. Edukasi berkelanjutan melalui berbagai platform media sosial dan komunitas dapat mempercepat perubahan perilaku kesehatan.
Para ahli kesehatan merekomendasikan pendekatan evidence-based practice dalam menangani permasalahan ini. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa intervensi yang tepat sasaran dapat menekan angka kejadian hingga 30% lebih rendah.
MHKES UNINUS terus berkontribusi melalui riset dan pengabdian masyarakat untuk menemukan solusi inovatif. Kerjasama dengan berbagai mitra strategis seperti rumah sakit, puskesmas, dan dinas kesehatan terus diperluas.
Menurut data terbaru dari Kementerian Kesehatan RI, isu ini menjadi prioritas nasional yang membutuhkan kolaborasi semua pihak. Evaluasi program yang berjalan menunjukkan hasil positif namun masih perlu peningkatan cakupan dan kualitas layanan.
Gangguan Pemrosesan Sensori pada Anak dengan ADHD